Survive di China Tanpa Bicara Bahasa Mandarin, Bisakah?


Kalau kamu pergi ke China tanpa bisa bicara bahasa Mandarin, kemungkinan besar itu bakal jadi masalah utamamu.

Beberapa hari pertama saya di Shanghai, saya kesulitan beli makan. Ngga semua orang bisa Bahasa Inggris. Sudah pakai Google Translate, tetap saja kelabakan saat saya ditanya balik dalam bahasa Mandarin.

Hidup disini jauh lebih mudah kalau bisa bicara bahasa Mandarin. Tapi kalau ngga bisa, sebenarnya cukup menggunakan bahasa isyarat sederhana buat survive dalam situasi harian. Ya, menggunakan gestur tangan (dan gadget) untuk berkomunikasi.

Tapi ingat, sebatas survive. Ada juga resikonya. Ini contohnya:

Beli Makan di Restoran
  • Pilih makanan? Tunjuk menu dan beritahu jumlah dengan isyarat jari.
  • Ingin daging ayam? Perlihatkan gambar ayam di HP ke pelayan.
  • Minta bill? tunjuk dompet.
  • Resiko: Menu dalam bahasa Mandarin tanpa gambar. Kebanyakan restoran perlihatkan menu di pintu masuk, lebih baik cek dulu sebelum masuk.
Naik Taksi
  • Bilang tujuan? Tunjuk alamat di maps.
  • Resiko: Supir ngga tahu alamat. Lebih baik naik taksi online (Didi), appnya dilengkapi translator dan template buat komunikasi dengan supir.
Belanja di Minimarket
  • Panasin makanan? Tunjuk makanan lalu tunjuk microwave di belakang kasir.
  • Minta plastik? Peragakan gaya bawa plastik. Kasir disini ngga kasih plastik kalo ngga diminta.
  • Resiko: Hampir ngga ada
Belanja di Pasar
  • Tanya harga? Tunjuk barang lalu tunjuk kalkulator penjual. Atau buka kalkulator di HP dan kasih ke penjualnya.
  • Nawar? Langsung tulis angka di kalkulator.
  • Resiko: Penjual kasih harga tinggi ke foreigner yang ngga bicara bahasa Mandarin. Lebih baik belanja di minimarket atau supermarket.
See? Dalam situasi harian, sebenarnya dengan gestur tangan dan bantuan gadget saya bisa survive di China.

Tapi ngga 100% mulus. Saya pernah ke tempat massage, memeragakan pijat kaki maksud ingin refleksi, eh dikasih full-body massage. Saya pernah beli thai tea, sudah tunjuk bubble dan no sugar di menu, eh dikasih grassjelly dan pakai gula.

Saya bersyukur sempat les Mandarin sebelum berangkat ke China meski cuma sebentar. Kalau ngga, pasti saya ketemu lebih banyak kesulitan.

Untungnya, setelah tinggal beberapa bulan di sini, kosakata bahasa Mandarin saya bertambah. Meski bahasa isyarat cukup untuk survive, bisa bicara sedikit bahasa Mandarin bikin hidup saya lebih mudah.

With body language, we can survive. With spoken language, we can explore.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resepsi Nikah on Budget: 50 Juta di Jakarta

Belum Berhasil di Rekrutmen UFLP (Unilever Future Leaders Program)

Menuju MT Star Danone