Tiga Ketakutan Sebelum ke China (dan Realitanya)


Saya masih ingat, sore itu saya diajak bicara oleh bos tentang penugasan ke luar negeri. Gosip sebelumnya, saya bakal ditempatkan di suatu negara di perbatasan Asia dan Eropa. Tentu saya penuh semangat untuk ngobrol dengan bos dan tahu kelanjutannya, hingga saya mendengar bahwa penugasan saya pindah ke Shanghai. Whoa, China? Di luar dugaan.

Apa yang saya rasakan, pertama jelas excitement untuk kerja dan tinggal di negara yang digadang akan menjadi adidaya masa depan ini. Namun, di antara excitement ini, ada juga ketakutannya.

Ada tiga hal yang jadi ketakutan saya: kendala bahasa, apps yang diblokir, dan biaya hidup yang tinggi.

Sekarang, setelah merasakan tinggal di China, apa ketakutan saya benar sesuai realita?

Bahasa

Sedari awal saya sudah menebak: ngga cukup bahasa Inggris untuk hidup di China. Di kantor, tentu orang-orang bisa bicara Bahasa Inggris, tapi di luar kantor? Apa pelayan restoran bisa? Apa supir taksi bisa? Kemungkinan besar ngga. Saya takut ngga bisa berinteraksi dengan orang sekitar.

Jadilah saya ambil les Mandarin. Dua bulan sebelum berangkat, 2 kali per minggu, setiap pagi jam setengah 8 sebelum kerja. Capek, tapi seengganya saya belajar percakapan sederhana biar survive: perkenalan, beli makan non-pork, tanya alamat, dll. Setelah les Mandarin, rasanya saya lebih siap untuk kesana.

Tiba di Shanghai, saya praktek bahasa Mandarin pertama kalinya untuk beli makan. Hasilnya? Dua kali gagal. Duh, padahal sudah pakai Google Translate pula. Saya bisa pesan menu makanan, tapi saat si pelayan bertanya balik, saya cuma bisa melongo (mungkin dia tanya pedas ngga, makan sini atau bungkus, dsb). Kalo saya ngga les Mandarin sebelum berangkat, mungkin lebih parah lagi.

Beberapa minggu setelah tinggal di China, kosakata saya bertambah. Memang, tetap saja sesekali salah, misal pesan teh hangat, eh, dikasih air panas. Bedanya, sekarang saya terbiasa dengan kendala bahasa. Sebelumnya, sebelum masuk suatu tempat, saya selalu cek apa ada Bahasa Inggrisnya. Sekarang, saya lebih cuek ke restoran, minimarket, massage, dan tempat lain meski ngga ada petunjuk Bahasa Inggris.

Apps

Saya sempat ngobrol dengan teman yang pernah tinggal disana. Hal pertama yang dia cerita adalah produk Google (termasuk Maps, Gmail, Playstore, dkk) dan Facebook (termasuk Instagram, Whatsapp) diblokir pemerintah China. Wah, baru membayangkan hidup tanpa Whatsapp saja rasanya berat. Saya takut ngga bisa ngobrol sama teman dan keluarga.

Sebenernya, apps buatan China pun banyak yang bisa menggantikan. Mau ngobrol? Ada Wechat. Mau bayar? Ada Alipay. Mau belanja? Ada Taobao. Mau lihat peta? Ada Baidu Maps. Mau tenar? Ada Tiktok (ya, Tiktok yang bikin Mas Bowo tenar itu punya China).

Masalahnya, mayoritas apps di sini ngga bilingual, alias hanya bahasa Mandarin. Saya ngga selihai itu berbahasa Mandarin.

Solusinya, install VPN, apps yang bisa bantu tembus apps atau website yg diblokir. Minusnya, koneksinya ngga selalu stabil dan dari sekian banyak VPN, yang bagus umumnya berbayar. VPN yang saya pakai harganya 800 ribu per 6 bulan. Mahal sih, tapi cukup bisa diandalkan dan saya tetep bisa akses Whatsapp, Gmail, Instagram, dan apps penting lainnya. Lega rasanya.

Biaya Hidup

Saat saya tahu bahwa Shanghai itu salah satu kota termahal di China, saya mulai waswas. Saya jadi ingat waktu honeymoon ke Hongkong: setiap makan pasti habis >75 ribu rupiah meski bukan di restoran atau cafe. Saya takut pengeluaran bulanan saya jadi jauh lebih tinggi.

Setelah beberapa hari di Shanghai, ternyata benar. Bila dirupiahkan, harga di Shanghai hampir 2 kali di Jakarta. Air mineral 600mL 7 ribu, sampo 200mL 70 ribu, tiket bioskop 100 ribu, kaos non branded 160 ribu, dst.

Untungnya, setelah ekplorasi, ada beberapa tempat yang bisa bikin lebih hemat. Ada tempat makan dekat apartemen saya yang harga makanannya 15-20 ribu rupiah. Keperluan sehari-hari lebih hemat di Miniso. Clothing bisa lebih hemat kalo cari promo Uniqlo (atau di Fake Market beli KW branded, hati-hati ketahuan Yoshiolo).

Secara keseluruhan, tetap mayoritas harga barang di sini lebih mahal. Otomatis pengeluaran meningkat. Kalo dihitung-hitung, pengeluaran saya 2.5 kali lebih besar dibandingkan di Jakarta. Jadi wajib bersiap dari awal untuk atur strategi keuangan pribadi.

Jadi, apa ketakutan saya benar sesuai realita?

Ya, ketakutan saya sebelum berangkat ke China ternyata benar: kendala bahasa, apps diblokir, dan biaya hidup tinggi. Namun, ketakutan itu perlahan hilang setelah beberapa minggu. Saya mulai adaptasi, mulai terbiasa dengan perbedaan. Sekarang, dua bulan di sini dan masih betah untuk tinggal.

Happy to be here in Shanghai - wo hen gaoxing zai Shanghai!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resepsi Nikah on Budget: 50 Juta di Jakarta

Belum Berhasil di Rekrutmen UFLP (Unilever Future Leaders Program)

Menuju MT Star Danone