10 Years vs 10,000 Hours - My Music Production Journey


It’s been more than 10 years since I made my first song back in 2005.

Saya masih ingat, saat itu saya dan grup hiphop saya, One O One, merekam lagu pertama bertajuk “Narsis” hanya menggunakan laptop. Tanpa mic, mixer, headphone, maupun peralatan rekaman lainnya. Rekaman dilakukan sekali jalan dan selesai dalam 1-2 jam saja. Itu adalah kali pertama kita mengenal software produksi dan rekaman lagu.

Inilah hasilnya.


Sampai sekarang saya dan teman-teman One O One masih tertawa bila mendengar lagu ini. Kualitas musik dan sound yang seadanya ditambah rap yang keluar dari beat. Well, ini memang tidak bisa dihindari, everybody sucks at the beginning, right?

Beberapa tahun kemudian di 2009, One O One menyelesaikan album Hepihop. Ini salahsatu lagu kami saat itu.


Terdengar perubahannya, kan? Selama 5 tahun saya cukup intens menulis rap dan mempelajari teknik produksi musik. Saya mulai mengerti fungsi dasar penggunaan DAW (Digital Audio Workstation), menemukan flow rap yang pas, juga mengerti dasar teknik recording dan mixing.

Mari percepat beberapa tahun ke 2015, ini lagu yang saya buat di Maret 2015 lalu.


Terdengar lagi perubahannya, kan? Selama beberapa tahun berikutnya ini saya mulai mengerti chord progression, meng-explore VST (virtual sound technology), mengenal recording hardware, dan belajar lebih jauh teknik recording, mixing, dan mastering.

Overall, saya happy melihat ada perubahan signifikan dalam produksi musik saya dalam 10 tahun ini. Namun, tetap saja, meski sudah 10 tahun mempelajari music production, saya masih tertinggal jauh dari produksi musik yang dihasilkan produser/DJ internasional seperti Timbaland, Aviici, Max Martin, dkk.

The good news is, I know why.

Menurut Malcolm Gladwell, untuk mencapai mastery, dibutuhkan 10,000 jam terbang. Artinya, apabila ingin menguasai sesuatu dalam 10 tahun, kamu harus mempelajari atau mengaplikasikan hal tersebut sekitar 2.5 jam setiap harinya.


Sangat jelas bahwa saya belum mencapai 10,000 jam tersebut. Mungkin saya perlu 10 tahun lagi, atau bila lebih cepat, 5 tahun lagi. Here’s the deal. Dalam 5 tahun ke depan, saya akan mempelajari lebih jauh mengenai produksi musik. Mari kita lihat seberapa signifikan perkembangan produksi musik saya di 2020 ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resepsi Nikah on Budget: 50 Juta di Jakarta

Belum Berhasil di Rekrutmen UFLP (Unilever Future Leaders Program)

Menuju MT Star Danone