Memanusiakan Musik Digital dengan 3K


Saya mulai kenal musik digital saat duduk di bangku SMA, sekitar 10 tahun lalu. Seru rasanya bisa menghasilkan instrumen mp3 di depan komputer, tanpa harus rekaman di studio menggunakan drum, gitar, bas, dan instrumen asli lainnya. Sampai sekarang pun saya masih senang berkutat di depan laptop bermain musik digital.

Tahun ini saya banyak membuat cover song, untuk beberapa lagu, instrumennya saya produksi sendiri secara digital. Masalahnya, untuk lagu pop, selalu ada hal mengganjal dari musik digital yang saya produce: terdengar seperti dimainkan oleh robot. Coba dengar contoh intro lagu HiVi ‘Siapkah Kau Jatuh Cinta Lagi’ di bawah ini.



Well, buat saya terdengar seperti robot yang bermain gitar. It needs to be more human. Sampai akhirnya saya berselancar di internet dan mempelajari metode humanizing. Ini hasilnya:



Terdengar lebih ‘manusia’, kan? Yang mengejutkan, meskipun banyak hal yang mempengaruhi, ternyata basic cara memanusiakan musik digital ini sangat logis. Kuncinya ada tiga dan saya singkat jadi 3K:

Ketepatan
Tepat berarti nada dimulai dan berhenti di waktu yang benar. Standardnya, musik digital punya ketepatan yang perfect: nada gitar, bas, piano, muncul presisi sesuai ketukan. Nyatanya, nada yang dimainkan manusia pasti ada luput sepersekian detik. Contoh, saat meng-‘genjreng’ gitar: 1. Senar teratas bunyi lebih dulu dibanding senar bawah; 2. Belum tentu bunyinya 100% presisi sesuai ketukan; 3. Setiap senar berhenti berbunyi pada waktu berbeda. Jadi, buat ketepatan instrumenmu ‘cukup tepat’, tidak sempurna.

Kecepatan
Setiap lagu memiliki tempo, baik cepat maupun lambat. Musik digital punya standard untuk memiliki tempo persis sama dari awal hingga akhir. Tentu band yang baik adalah band yang bisa menjaga tempo tetap stabil; tapi nothing’s perfect, sehebat apapun pasti ada perubahan tempo meski sifatnya minor. Contoh, saat masuk bagian chorus, mungkin saja sang drummer menjadi menggebu-gebu dan tanpa terasa temponya jadi lebih cepat. Jadi, buat perubahan tempo kecil di sepanjang lagu.

Kekencangan
Petikan gitar yang bertenaga akan menghasilkan volum lebih kencang dan frekuensi lebih luas dibanding petikan lemah. Bicara software musik digital, standard kekencangan instrumennya adalah flat alias sama sepanjang lagu. Nyatanya, gitaris tidak memainkan gitar dengan kekencangan yang sama terus menerus. Begitu juga drummer dan pemain lainnya. Umumnya kita memainkan alat musik dengan kencang di bagian intens dan melemah di nada sendu. So, variasikan kekencangan instrumen secara natural.

That’s it! Pastikan kamu menggunakan humanizing dalam porsi yang benar. Tanpa humanizing, akan terdengar seperti musik yang dimainkan robot. Dengan humanizing berlebih, akan terdengar berantakan seperti musik yang dimainkan band yang baru belajar musik. Dengan humanizing yang tepat, akan terdengar seperti musik yang dimainkan manusia. Saya pribadi masih belajar humanizing. So good luck for you and I!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resepsi Nikah on Budget: 50 Juta di Jakarta

Belum Berhasil di Rekrutmen UFLP (Unilever Future Leaders Program)

Kerja Praktek di Telkom