Sehari Berbagi di Kelas Inspirasi Bandung


Rabu pagi biasanya saya ada di kantor, di depan meja kerja ditemani secangkir teh dan pemandangan jalanan macet khas ibukota dari lantai 16. Rabu pagi kemarin suasananya beda. Pagi itu saya berdiri di lapangan, dengan ratusan anak berseragam putih merah menghadap ke tiang bendera, penuh suara keceriaan - saling bercanda dengan temannya. Di belakang mereka terdapat papan putih bertuliskan SDN Baros Mandiri 5 Kota Cimahi.

Rabu lalu saya dan relawan lainnya cuti sehari untuk berbagi di Kelas Inspirasi Bandung 3.

Kita pernah duduk di bangku SD, tentu saja, tapi belum pernah sebailknya: bagaimana kalau kita di posisi sebagai guru yang mengajar. Lebih jauh lagi, Kelas Inspirasi ini bertujuan untuk mengenalkan profesi ke siswa SD dan membuat mereka mengejar cita-citanya. Jadi, kita juga didorong untuk menjadi inspirator mereka. Inspirator siswa SD. Sounds fun, right?

Jam 07.30, setelah apel pagi dan pembukaan Kelas Inspirasi, kelas yang pertama saya datangi adalah kelas 2B. Ketika saya membuka pintu dan masuk kelas, dengan sigap sang KM kecil langsung menyiapkan, “Siiaap, berdoaa mulaii” yang diwarnai dengan logat khas anak SD, dilanjutkan dengan “Beri saaalam”. Ah, jadi ini rasanya diberikan salam oleh satu kelas. Saya pun mulai bercerita tentang berbagai profesi, bermain games, menggambar dengan kapur di papan tulis, sampai menyanyikan lagu nasional (saya sebagai dirigennya - seru!).


Bukan anak SD namanya kalau tidak penuh kehebohan. Di kelas mana pun, setiap saya tanya sesuatu, seisi kelas menjawab serentak dengan berteriak. Saat membagikan sesuatu, seisi kelas berbondong – bondong maju ke depan, tidak mau ketinggalan. Berbagai tantangan pun datang: ada yang saling dorong dan mulai berkelahi, ada yang jatuh dan nangis, sampai ada yang usil memasukkan cicak hidup ke tas temannya. Satu hari, seribu kehebohan.

Menariknya, di balik kehebohan itu, mereka antusias mengikuti kelas. Semuanya aktif dan semangat. Mereka juga punya cita-cita yang keren, mulai dari dokter, tentara, pilot, guru, sampai juru masak. Bahkan ada yang bercita-cita petinju – nampaknya kita punya the next Chris John. Di akhir sesi, setiap siswa menuliskan nama dan cita-citanya di daun kertas. Daun ini kemudian ditempel di poster bergambar pohon, membentuk sebuah pohon cita-cita. Jam 12 siang, semua kelas membawa pohon cita-citanya ke lapangan untuk merayakan penutupan Kelas Inspirasi. 

Anak-anak kelas 1A dan pohon cita - citanya.

It was an amazing experience.

Untuk menutup tulisan ini, saya kutip dan ringkas ikrar yang dibacakan semua relawan pada closing ceremony Kelas Inspirasi Bandung 3 di Museum Konferensi Asia Afrika:

“Pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua. Apapun profesi kita, kita akan tetap berkontribusi untuk membangun cita-cita anak bangsa”.

Kelompok 47 SDN Baros Mandiri 5 - Satu Tim, Beragam Profesi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resepsi Nikah on Budget: 50 Juta di Jakarta

Belum Berhasil di Rekrutmen UFLP (Unilever Future Leaders Program)

Kerja Praktek di Telkom